Jumat, 04 Mei 2007

Menantang Allah

Bacaan: Yeremia 44:1-19

Ayat 16: "Mengenai apa yang kau katakan demi nama Allah kepada kami itu, kami tidak akan mendengarkan engkau, tetapi kami akan terus melakukan segala apa yang kami ucapkan, yakni membakar korban kepada ratu sorga dan mempersembahkan korban curahan kepadanya seperti telah kami lakukan, ...."

Ini adalah episode terakhir atas nubuatan Yeremia kepada sisa-sisa bangsa Yahudi.

Merenungkan kitab Yeremia ini terus menerus, sungguhlah menyedihkan hati. Ini adalah gambaran kita manusia yang terus-menerus menolak Allah.

Allah telah membuat perjanjian dengan nenek moyang Yehuda, sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Allah memberkati sehingga menjadi bangsa yang besar dan kuat.

Namun terus-menerus mereka menghianati perjanjian dengan Allah. Mereka menyembah illah-illah lain yang mendukakan hati Allah.

Hamba-hamba Allah telah terus-menerus dikirim untuk mengingatkan mereka, namun tetap saja ditolak. Allah akhirnya membiarkan mereka untuk dihancurkan oleh bangsa-bangsa lain yang telah siap mengintai.

Yerusalem sekarang sudah hancur. Tidak ada lagi kebanggaan. Sisa-sisa rakyat menjadi kekuatan yang tidak berarti bagi bangsa-bangsa lain.

Seharusnya ini membuat mereka kembali pada Allah dan setia kepadanya. Mereka seharusnya tetap di tanah perjanjian dan tidak pergi ke Mesir. Mereka seharusnya ingat, ketika dulu masih menjadi bangsa yang kecil, Allah terus memelihara mereka.

Apa yang mereka lakukan sekarang?
Bukan hanya pergi ke Mesir, bahkan kembali mendukakan Allah dengan menyembah illah-illah lain, yaitu ratu sorga.

Apa alasan mereka?
Sederhana namun sungguh aneh.
Sewaktu mereka aktif menyembah ratu sorga, kehidupan mereka terjamin. Namun sekarang setelah berhenti membakar korban dan mempersembahkan korban curahan kepada ratu sorga, mereka kekurangan segala-galanya dan dihabiskan oleh pedang dan kelaparan.

Sungguh aneh melihat argumentasi mereka.

Hati yang sudah tertutup akan menyebabkan mereka tidak lagi menghormati dan menyembah Allah. Malah menantang Allah.

Seringkali kalau kita sudah terus-menerus bebal akan teguran Allah, kita lambat laun melupakan Allah dan anugrahNya dalam hidup kita. Bahkan tanpa disadari, kitapun akan menantang Allah secara aktif.

Menyedihkan sekali!