Bacaan: Mazmur 134
Ayat 1-3: Nyanyian ziarah. Mari, pujilah TUHAN, hai semua hamba TUHAN, yang datang melayani di rumah TUHAN pada waktu malam. Angkatlah tanganmu ke tempat kudus dan pujilah TUHAN! Kiranya TUHAN yang menjadikan langit dan bumi, memberkati engkau dari Sion.
Ini adalah suatu liturgi berupa pujian yang dinyanyikan saat pertukaran sejenak antara para penyembah yang datang khusus ke bait suci untuk tugas pelayanan hingga sore hari dengan para imam.
Setelah pelayanan sore, para penyembah akan meninggalkan bait suci yang digantikan para imam yang bertugas sepanjang malam.
Saya sangat tertarik dengan ayat: ".... pujilah TUHAN..... waktu malam".
Perikop ini menarik perhatian. Memuji TUHAN pada waktu malam.
Kita biasa memuji TUHAN di waktu siang hari. Saat matahari terbit bersinar, saat semua orang sudah bangun pagi dan siap memulai kerja mereka.
Tapi waktu malam? Rata-rata orang mulai tertidur.
Malam seringkali dikontraskan dengan siang.
Malam seringkali menggambarkan tentang ketidakmampuan, kesunyian, tersendiri, kesepian bahkan kesedihan.
Coba tanya gambaran orang-orang mengenai malam, apakah mereka lebih menyukainya dibandingkan siang hari?
Puji TUHAN!
Memuji diwaktu malam.
Banyak orang yang setia diwaktu keadaan terang benderang, semuanya terlihat dengan baik, segala sesuatunya begitu menyenangkan.
Tapi begitu sedikit orang yang masih mau bekerja melayani TUHAN diwaktu sepi dan gelap.
Bagaimana konsep kita melayani TUHAN?
Ingatlah: bukan saat terang kita berjalan, namun saat gelap kita masih berlari.
Serve our GOD with heart and mind.
Jikalau hidup saudara terasa seperti di malam hari, gelap dan tersendiri. Itulah saat yang tepat untuk memuji TUHAN.