Selasa, 08 Mei 2007

Hidup yang peka

Bacaan: Mazmur 135

Ayat 15-18: Berhala bangsa-bangsa adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, juga nafas tidak ada dalam mulut mereka. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, semua orang yang percaya kepadanya. Hai kaum Israel, pujilah TUHAN! Hai kaum Harun, pujilah TUHAN! Hai kaum Lewi, pujilah TUHAN! Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, pujilah TUHAN! Terpujilah TUHAN dari Sion, Dia yang diam di Yerusalem! Haleluya!

Sadarkah saudara bahwa TUHAN begitu mengasihi saudara?
Sejak jaman dahulu sudah di tunjukkanNya. Melalui perikop ini kita melihat bagaimana pekerjaan TUHAN bagi umatNya.
1. TUHAN memilih umat yang dikasihiNya.
2. Mengatur alam semesta bagi mereka.
3. Menaklukkan segala sesuatu yang merintangi dan membahayakan umatNya.
4. Membuat segala anasir alam semesta dan semua kuasa illah bangsa-bangsa lain tunduk menjadi tidak berarti di hadapan Allah.
5. Terus setia memelihara umatNya dari generasi ke generasi.

Kalau demikian, siapakah yang sekarang menjadi pusat hidupmu?
Perak & emas?
Jabatan & kekuasaan?
Pekerjaan?

Kalau bukan TUHAN, itu artinya engkau sedang menyembah berhala, yaitu menjadikan illah-illah lain pusat hidupmu.

Apa nasib dari orang yang berbuat demikian?
1. Mempunyai mulut namun tidak dapat berkata-kata.
2. Punya mata tapi tidak bisa melihat.
2. Punya telinga namun tidak dapat mendengar.
3. Tidak ada nafas dari mulut, itu berarti mati.

Kita hidup namun tidak hidup dalam kebenaran. Artinya kita mati di dalam kebenaran. Tidak ada sensitifitas atas kebenaran itu sendiri.

Saya jadi teringat akan manusia jaman dulu untuk menghilangkan racun panah dari dalam tubuh. Yaitu membuat bara dari besi dan ditempelkan ke bagian tubuh yang terkena racun. Apa akibatnya? Racun tersebut mati tetapi bagian tubuh itu juga ikut mati sel-selnya. Sehingga tidak dapat lagi merasakan sentuhan dari sel-sel syarafnya.

Oh.... TUHAN Yesus, tolonglah saya. Biarlah kiranya sel-sel kehidupan saya tetap peka akan kebenaran. Latihlah hambaMu sehingga makin hari makin sensitif akan panggilanMu. Terima kasih TUHAN, Amen.