Rabu, 20 Juni 2007

Terbalik

Bacaan: 2 Korintus 11:12-21a

Paulus dalam mengecam guru-guru palsu dan menarik jemaat Korintus supaya kembali kepada Kristus melakukan strategi yang berbeda kepada dua kelompok itu. Kepada guru-guru palsu, Paulus dengan keras menghardik mereka, sedangkan kepada jemaat Korintus bagaikan mengikuti pemikiran mereka untuk menyadarkannya.

Kepada pengajar-pengajar palsu, Paulus menyatakan sebagai berikut:
1. Paulus menutup kesempatan mereka untuk memegahkan diri atas jemaat Korintus.
2. Mereka yang melawan Paulus itu adalah: rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.
3. Mereka itu adalah pelayan-pelayan Iblis yang menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran, karena Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.

Kepada jemaat Korintus Paulus menegaskan sebagai berikut:
1. Paulus tidaklah bodoh seperti yang diutarakan pengajar-pengajar palsu tersebut kepada jemaat Korintus.
2. Sekalipun Paulus rela dianggap bodoh, namun kenapa mereka tidak menyadari bahwa mereka sesungguhnya juga begitu bodoh untuk menerima guru-guru palsu.
3. Paulus yang begitu kritis dianggap bodoh, bagaimana dengan jemaat Korintus yang dengan begitu saja mau diperhamba, dihisap, dikuasai, ditampar oleh pengajar-pengajar palsu. Mereka juga rela diangkuhi oleh guru-guru palsu itu. Itu adalah kebijaksanaan yang dimiliki jemaat Korintus.
4. Dalam hal diperhamba seperti itu, Paulus sangat lemah dan tidak bisa bertindak seperti jemaat Korintus untuk mau diperlakukan sama oleh guru-guru palsu itu.

Sama-sama keras, tulisan Paulus. Tetapi mempunyai efek yang berbeda.

Kepada guru-guru palsu Paulus dengan terang-terangan menyatakan siapa diri mereka itu. Kepada jemaat Korintus Paulus menggunakan pola pikir mereka untuk membukakan kebodohan mereka.
Paulus menyetujui pemikiran jemaat mengenai dirinya yang dianggap bodoh karena begitu kristis pemikirannya, tetapi kalau Paulus begitu bodoh, bagaimana dengan jemaat Korintus yang dianggap begitu “bijaksana” sehingga mau diperhamba, dikuasai, ditampar dan sebagainya. Mau disebut sebagai apakah jemaat Korintus itu?

Dalam menghadapi hidup juga hendaklah demikian. Kita seringkali bertemu dengan kondisi yang demikian. Ada yang memang sengaja untuk mengacaukan, ada yang memang karena tidak mengerti. Ada yang aktif dan ada yang pasif dalam pengertian kebenaran mereka.

Untuk yang bersifat untuk mengacaukan, memang Paulus bersifat demikian keras. Ini mirip dengan Yesus yang menghardik Petrus dengan sebutan “enyahlah engkau Iblis”. Sebutan yang demikian keras. Tetapi kenapa Yesus begitu pasrah ketika bertemu dengan orang-orang yang menganiaya Dia?

Saya coba perhatikan sebagai berikut: Kritikan keras Yesus selalu mengarah pada orang-orang yang sudah mengenal Kitab Suci. Mereka yang sudah belajar tetapi dengan pengertian yang salah. Sedangkan untuk orang-orang yang memang belum mengerti kebenaran karena memang belum belajar banyak mengenai hal itu, Yesus berkata: “Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

Disini kuncinya, pengertian akan kebenaran. Yang belum mengerti, tentu tidak tahu apa akibat perbuatannya. Sedangkan yang sudah mengerti akan kebenaran namun memutarbalikkannya, inilah yang selalu dikecam oleh Yesus.

Puji Tuhan atas pengertian ini.

Saya akan renungkan lebih lanjut khusus untuk menganalisa ajaran-ajaran yang berkembang selama ini dan bagaimana sebenarnya posisi orang-orang yang memang belum belajar banyak dan mengalami kebingungan atas simpang siurnya ajaran.

Aplikasi dalam hidup sekarang ini terjadi demikian. Banyak ajaran-ajaran yang benar dan bermutu tidak didengar. Tetapi dongeng-dongeng yang menidurkan pikiran, begitu disukai. Bahkan terjadi pemutarbalikan pemikiran. Yang baik dianggap sesat dan yang sesat dianggap baik. Kenapa bisa demikian? Karena tidak mau paham akan kebenaran sejati. Peniduran pikiran dan tidak terbukanya akan kebenaran yang sesungguhnya akan membahayakan sekali. Sulit memang merubahnya.

Contoh sederhana saja. Ketika rekan-rekan pelayanan saya ikut suatu kebaktian, mereka sulit untuk menentang ajaran yang kurang baik pengajarannya itu. Kami sering berdiskusi dan belajar alkitab bersama, namun ketika bertemu dengan kondisi-kondisi demikian, tetaplah sulit untuk menangkisnya. Paling rekan saya berkata: ini kurang benar, tidak sesuai dengan apa yang telah saya pelajari. Setelah kembali ke diskusi, mereka utarakan apa yang dialami, lalu kami bahas. Itu baru bisa memuaskan rekan saya tersebut.

Tidak mau belajar firman dengan sungguh-sungguh bagi saya sebenarnya adalah sama berbahayanya dengan yang mengabarkan firman yang tidak benar. Mereka sama-sama terjatuh.

Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita hanya mau berdiam diri saja? Ataukah kita boleh berbagian seperti Paulus untuk “berperang” demi kebenaran? Kiranya Tuhan boleh memampukan kita untuk melakukannya. Amen.