Bacaan: 2 Korintus 11:1-11
Siapakah pusat pelayanan kita? Kristus atau hal-hal lahiriah? Inilah yang menjadi pegumulan Paulus kepada jemaat Korintus.
Perikop diatas dibagi dalam dua bagian, yaitu:
1. Kekhawatiran Paulus terhadap ajaran-ajaran dari pengajar-pengajar palsu.
2. Hal-hal lahiriah tidaklah menunjukkan kualitas atau kesejatian seseorang.
Pada bagian pertama, kekhawatiran itu dicuatkan melalui beberapa ekspresi:
+ Karena jemaat Korintus adalah hasil pelayanan Paulus, sehingga wajar saja kalau Paulus cemburu dengan pengajar-pengajar lain yang merampas hasil kerjanya. Kecemburuan ini bukanlah kecemburuan yang negatip, tapi kecemburuan ilahi.
+ Paulus takut pikiran mereka disesatkan dari kesetiaan mereka kepada Kristus.
+ Paulus meminta mereka berhati-hati terhadap ajaran mengenai Yesus yang lain, roh yang lain, Injil yang lain dari yang Paulus beritakan.
+ Paulus mungkin kurang pintar berkata-kata manis, namun pengetahuannya lebih dari cukup untuk jemaat Korintus mengerti.
Pada bagian kedua, hal-hal lahiriah hendaklah tidak menjadi acuan penting dan utama.
+ Umumnya pada jaman itu, seorang pengajar hidup dari jemaat yang dilayaninya. Paulus lain, dia tidak meminta uang kepada jemaat Korintus yang dibangunnya. Ini bertentangan dengan kondisi yang umum terjadi saat itu. Hal inilah yang dipakai untuk menjerat Paulus. Guru-guru palsu membangkitkan rasa tersinggung jemaat Korintus. Paulus mendapatkan dana untuk biaya operasionalnya dari Makedonia. Bukankah ini merendahkan jemaat Korintus? Paulus mengatakan itu bukanlah hal yang salah kalau ia merendahkan diri dengan tidak meminta dana dari jemaat Korintus untuk kebutuhan hidupnya.
+ Paulus dalam hidupnya mengusahakan, semaksimal mungkin boleh bekerja untuk menghindari dirinya menjadi beban bagi orang lain.
+ Paulus akan terus melakukan prinsip ini, yaitu tidak menjadi beban bagi orang lain dalam menginjili. Tuhan tahu sesungguhnya apa yang ada didalam hatinya.
Apa yang bisa kita pelajari dari perikop ini?
Adanya pebedaan mengenai hal-hal yang penting dan hal-hal yang tidak penting. Perbedaan pengertian antara hal-hal yang utama dengan yang tidak utama.
Bagi Paulus, hal-hal mengenai pemenuhan kebutuhan hidup dirinya, tidaklah terlalu penting. Tetapi bagaimana Injil diberitakan, itulah yang utama. Sedangkan bagi jemaat Korintus berlainan. Pemenuhan kebutuhan hidup pengajar-pengajar yang diberikan oleh jemaat itu, menjadi tanda bahwa seseorang itu adalah pengajar sejati. Ini berlainan sekali. Prinsip inilah yang ingin diajarkan oleh Paulus kepada jemaat Korintus.
Bagaimana dengan kondisi sekarang ini? Banyak pengajar-pengajar yang mengharapkan imbalan dari jemaat yang dilayaninya. Dengan sharing beban ini dan itu, maka ada harapan jemaat akan berkonstribusi dalam pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Saya ingat akan seorang hamba Tuhan di gereja saya yang terdahulu. Beliau sharing tentang rumah kontrakan yang diberikan oleh jemaat. Bagaimana sebaiknya rumah itu direnovasi atau dibetulkan. Kurang sempurna ini dan itu serta sebagainya.
Tetapi banyak juga jemaat sekarang yang kurang peka akan kondisi para hamba Tuhan. Membiarkan mereka hidup dalam kesulitan. Memberikan uang transport yang bahkan pas-pas-an untuk transport dan makan siang mereka. Bagaimana para hamba Tuhan bisa berkhotbah dengan baik jikalau tidak ada dana untuk beli buku-buku rohani yang baik, kehidupan keluarganya yang berkekurangan dan sebagainya. Sehingga energi mereka hanya habis untuk mengurusi kekurangan tersebut dibandingkan untuk mengabarkan injil.
Bagaimana sebaiknya?
1. Fokuskan para hamba Tuhan untuk melayani dengan baik. Hati yang murni untuk melayani dan belajar yang sungguh, akhirnya akan meningkatkan kualitas mereka.
2. Secara tidak langsung akhirnya mereka bisa menggerakkan para jemaat melalui khotbah-khotbah. Saya percaya jemaat akan dengan sendirinya memberikan persembahan ucapan syukur kepada Allah.
Kesetimbangan ini bisa terjadi dengan satu syarat: Kristus menjadi pusat dari segala sesuatu. Para hamba Tuhan dan jemaat kiranya menjadi Kristus sebagai pusat dan otoritas tertinggi untuk menilai, mengajar dan mendidik serta tujuan dari segala pelayanan tersebut.
Ini tidaklah mudah. Perlu penyangkalan diri terus menerus untuk menjadikan Kristus sebagai pusat hidup kita. Tidak mudah, tapi bisa. Itu yang penting.