Bacaan: Bilangan 16:23-50
Merenungkan perikop ini begitu mengerikan hati. Kita berjumpa dan berkenalan dengan sosok Allah yang adil dan suci adanya. Kita bertemu dengan otoritas dan kedaulatan mutlak dari Allah.
Orang-orang yang memang ingin melawan Allah dengan menentang Musa dan Harun serta ingin menggantikan kepemimpinan mereka, mendapat ganjaran. Tanah yang Korah, Datan dan Abiram tempati beserta seluruh keluarganya terbelah dua. Semuanya mati tertelan hidup-hidup didalam tanah. Sedangkan duaratus limapuluh orang lainnya terbakar, tersambar api oleh Tuhan.
Kejadian itu membuat pemberontakan mulai reda. Rakyat mulai melihat, siapa sesungguhnya pemimpin bangsa itu yang dipilih oleh Allah, yaitu Harun dan Musa. Tetapi, keesokan harinya bangsa Israel mulai menggerutu kembali kepada Allah. Mereka menyalahkan Musa dan Harun kenapa bangsa itu mulai banyak yang mati. Merekalah (Musa dan Harun) yang membunuhi rakyat Israel.
Bagaimana respon Allah mendengarkan gerutu mereka? Murka Allah kembali nyala dan ingin membumi hanguskan bangsa itu. Mulailah tulah yang demikian cepat menyebar dan segera membunuh rakyat Israel satu demi satu. Melihat itu Musa dan Harun berdoa bagi bangsa Israel kepada Allah. Api ukupan dari bakaran Harun, dipakai sebagai perdamaian antara bangsa Israel dan Allah. Harun secepat-cepatnya bekerja dan berlari ketengah-tengah jemaat untuk mengadakan pendamaian bagi mereka. Harun bekerja berkejar-kejaran dengan kecepatan tulah yang mematikan dan membunuh bangsa Israel. Akhirnya perndamaian bagi bangsa Israel dapat dilakukan dan tulah berhenti. Total ada sekitar 14.700 orang mati. Ini diluar kasus Korah, Datan dan Abiram.
Kenapa Allah begitu keras kepada bangsa Israel? Kenapa Allah tidak mengampuni mereka saja? Kenapa 14.700 orang harus mati? Mengapa Allah begitu kejam?
Perikop ini mengajarkan kita aspek penting, yaitu murka Tuhan. Keadilan Tuhan haruslah ditegakkan. Tidak boleh ada satu apapun yang berhak mengatur dan mengajari Allah apa yang harus Allah lakukan. Seringkali kita menyalahkan Allah atas apa yang terjadi. Ada cerita mengenai seorang umat beragama. Dikemudian hari terjadilah pembunuhan yang dilakukan demi alasan agama oleh orang-orang yang fanatik. Ini membuat orang tersebut mulai berpikir ulang. Kenapa orang beragama malah saling membunuh? Kenapa Tuhan tidak bisa menyetop itu semua? Dia akhirnya tidak lagi percaya pada Tuhan. Yang penting sekarang adalah perbuatan baik dan moral yang sungguh untuk merubah dunia ini. Engkau mau beragama apapun tidak lagi menjadi penting. Tuhanpun tidak menjadi ukuran lagi. Karena ada tidak adanya Tuhan, tetap saja banyak yang mati, baik karena bencana alam, tsunami maupun karena bom oleh terorisme.
Tadi juga disiarkan pada acara “Oprah” mengenai seorang pria yang selamat dari kecelakaan pesawat terbang yang terbakar dan meledak di sebuah bandara. Akhir cerita dia katakan, itu semua bukan karena Tuhan. Tetapi karena dia terus bergerak dan mencoba menolong sebanyak mungkin orang yang bisa dia selamatkan. Dalam proses itu, dia melihat orang-orang yang sedang dan mau mati karena terbakar didalam pesawat, memancarkan cahaya. Pancaran cahaya aura ini berbeda-beda. Ada yang sinarnya terang dan ada juga yang redup. Sekarang tujuan hidupnya adalah berusaha semaksimal mungkin mempunyai pancaran aura seterang mungkin yang bisa dia lakukan. Dia ingin berbuat sebaik-baiknya untuk mempunyai aura terang itu dari dalam dirinya.
Mulai memimpin diri sendiri dan tidak percaya lagi kepada Tuhan serta kedaulatanNya, itulah yang sedang terjadi didunia ini. Banyak orang yang marah kepada Tuhan, kenapa terjadi demikian banyak bencana, kematian dan pederitaan. Itu semua karena Allah berdiam saja. Apakah betul demikian? Seperti bangsa Israel yang tidak sadar mereka terus menerus melawan dan memberontak kepada Allah, demikian juga dengan banyak orang yang hidup zaman ini. Mereka terus menyalahkan Allah dan bukannya memohonkan pertolongan dariNya. Malah banyak orang yang mulai mencoba menyelesaikan setiap masalah dengan kemampuan dirinya sendiri. Mereka mencari jalan yang dianggap terbaik bagi hidup mereka. Apakah mungkin?
Marthin Luther sudah pernah merenungkan hal itu dalam pergumulan yang sedemikian hebatnya. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri melalui perbuatan baik yang dilakukan manusia itu sendiri. Tetapi seperti seorang filsuf pernah berkata: kesalahan terbesar manusia dalam sejarah adalah manusia tidak mau belajar dari sejarah itu sendiri.
Kita haruslah menyadari akan murka Allah atas dosa dan kedaulatan Allah untuk melakukan apa yang adil dan benar. Bagaimana dengan saudara dan saya? Tuhan Tolonglah saya ini, agar selalu bergantung pada kedaulatanMu yang penuh dan bersandar dalam kasihMu untuk terus hidup kudus dan berkenan. Tolonglah saya Tuhan, Amen.